01 Januari 2022

Review Buku "The Sociopath Next Door"

Tak hanya dengan menonton film horor , ternyata membaca buku "The Sociopath Next Door" pun mampu memberikan suasana menegangkan yang serupa (ditambah covernya yang juga horor menjadi semakin horor auranya). Kendati sebenarnya sosiopat itu sendiri jarang yang tampak nyata kehororannya seperti yang ditampilkan di TV-TV. Hanya sedikit dari mereka yang tampak sadis, kejam, dan bunuh-membunuh seperti yang digambarkan di film-film. Dari luaran, mereka sama seperti kita manusia-manusia yang punya kesadaran.


Bahasa buku ini sebenarnya resmi/formal dan kata-katanya sederhana (bahasa Inggrisnya sederhana), tapi mungkin karena bahasan-nya memang serem, auranya jadi menegangkan.


Di dalam buku ini, penulis sering menyamakan psikopat dengan sosiopat. Kadang-kadang kata-katanya bisa saling menggantikan. Bagi yang belum tahu, jadi gini, sepanjang aku membaca buku-buku jenis beginian, ada ahli yang mengabaikan beda antara narsis, psikopat, sosiopat, atau bahkan BPD, karena mereka saling tumpang tindih. Ada juga yang membedakan pengertiannya tapi kemudian saat penanganannya itu cuek akan bedanya. Nggak begitu penting gitu lho. Yang penting tau mereka itu berbahaya atau toksik. Ada juga yang membedakan masing-masing dengan perbedaan yang tipis. Nah, untuk penulis buku ini, kudapati istilah psikopat dan sosiopat kadang saling menggantikan. Namun, untuk narsis, avoidant personality disorder, dan sosiopat penulis memaparkan perbedaannya dengan sangat jelas, karena sepintas penderita tersebut mirip. 


Sosiopat itu jumlahnya hanya 4 persen dari seluruh populasi di dunia. Seperti kecil ya? Tapi jika sosiopat tersebut adalah figur otoritas, maka dia bisa menggerakkan orang-orang yang normal untuk mengikuti perintahnya (untuk berbuat buruk). Dan telah diteliti berkali-kali bahwa mayoritas orang normal akan mengikuti arahan dari figur otoritas tanpa membantah/mempertanyakannya, walaupun perintah tersebut error (perintah untuk melakukan kejahatan). 


Sosiopat itu jahat ya tapi jarang yang kelihatan dari luar. Kalau kamu tahu ciri utama yang diungkap oleh penulis buku ini, kamu pasti nggak nyangka banget, terutama buatmu yang penganut paham positif penuh (terlalu berprasangka baik). Sama sekali bukan tentang kata-kata atau bahasa tubuh yang mengerikan atau kejam. 


Selain jahat sosiopat juga cerdas. Saking cerdasnya hanya 20 persen sosiopat yang tertangkap dalam kasus kriminal (dalam pengertian formal). Malahan, kebanyakan penghuni penjara hanya orang biasa dengan kondisi "khusus".


Sayangnya, banyak orang sering tertipu karena mereka cenderung menghakimi orang berdasarkan penampilan, good looking/tidak, serta pekerjaan/gelarnya. Misalnya tentang good looking, tak hanya penulis buku "The Sociopath Next Door" ini, penulis buku "Falling in Love" juga menjelaskan kalau banyak orang mengasumsikan orang yang good looking pasti berakhlak baik.


Banyak orang masih mempercayai bahwa tidak ada 100% orang yang baik dan tidak ada 100% orang yang buruk, padahal keyakinan itu sangat berbahaya, karena 100% orang yang buruk itu ada, termasuk sosiopat ini sebagai kelompok yang tidak boleh dipercaya sama sekali. (Terkait ini, aku pribadi juga tidak setuju bahwa orang berbuat/menjadi jahat pasti karena dijahati duluan. Ada orang yang memang jahat.)


Oh ya, selama beberapa hari terakhir ini aku telah membaca banyak sekali abuse dan ajaran pembungkaman terhadap wanita, dan itu bukan karena aku spesifik membaca buku-buku tentang abuse atau feminis atau sengaja mencari buku-buku yang hanya tentang itu. Dan buku-buku/penulis-penulis/ahli-ahli tersebut adalah para ahli yang memiliki latar belakang berbeda dan dengan tema buku yang berbeda. Sialnya lagi, bukan hanya mereka, ada stok bacaanku yang lain/ahli-ahli yang lain mengatakan hal serupa. Ada yang salah dari budaya atau perlakuan terhadap gender kita, terutama perlakuan terhadap wanita. Dan memang, seperti yang tercantum di dalam buku "The Sociopath Next Door" ini, salah satu teori penyebab terbentuknya sosiopat adalah budaya dan hal ini didukung dengan pola pengasuhan yang salah. Senada dengan itu, di dalam buku "Why Does He Do That?", penulisnya juga menjelaskan salah satu teori penyebab terbentuknya narsis budaya jugalah biang keroknya.


Yah, begitulah, antara sosiopat dan narsis memang dekat hubungannya. Sebelas dua belas. Buat kalian yang punya anak hati-hati mengasuhnya agar tidak menjadi narsis/sosiopat atau malah menjadi korban empuk mereka.


Terakhir, aku mau menyoroti judul bukunya yang mengingatkanku akan judul buku serupa, "The Millionaire Next Door." Entah siapa yang duluan karena aku nggak mengamati tahun pembuatannya. Tapi serem banget kan judul buku "The Sociopath Next Door" ini? Jangan-jangan orang di "next door"-mu adalah sosiopat. Hiiiy...


Mau tau lebih lanjut tentang sosiopat? Martha Stout membongkarnya habis-habisan di dalam buku ini. Baca aja bukunya, "The Sociopath Next Door." Ini adalah salah satu buku terbaik tentang abuse yang pernah kubaca. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.