14 Januari 2021

Kajian Online Vs Kajian Offline

Ikut kajian online atau offline ya enaknya?

Benarkah ikut kajian itu harus datang langsung dan tidak boleh via online?

Kalau menurut saya, nggak juga sih. Teknologi kan sudah semakin berkembang ya dan kita tidak boleh anti terhadap teknologi.
Nggak sampai saklek bilang "nggak boleh" gitu. Yah fleksibel aja, bagaimanapun kajian online itu juga ada manfaatnya.
Pada saat orang-orang fokus banget ke HP melulu, ya itu kajian dimasukkan HP juga gitu. Setidaknya siraman rohaninya masih masuk, yang didengar maupun dilihat masih positif.
Jangan terlalu antipati lah dengan dunia online, pada beberapa kasus itu bisa membantu kok.

Agar lebih jelas saya tuliskan perbandingannya ya:

PERSAMAAN:

1. Mendapat ilmu dan pahala menuntut ilmu,

2. Dimudahkan jalannya menuju surga,

Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

3. Seluruh penghuni langit dan bumi akan memintakan ampun bagi Si Ahli Ilmu tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, 
"Seluruh apa yang ada di langit dan di bumi akan memintakan ampunan bagi seorang ahli ilmu, begitu juga ikan yang ada di tengah lautan. Keutamaan seorang pemilik ilmu dibandingkan orang yang gemar beribadah seperti keutamaan diriku dibanding orang yang paling rendah dari kalian." Kemudian Rasulullah melanjutkan, sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi, semut dalam lubangnya, sampai ikan, mereka bersalawat (mendoakan) kebaikan bagi para pengajar manusia. (HR. At-Tirmidzi)

4. Menjadi pewaris nabi

Rasulullah SAW. bersabda,
"Keutamaan orang alim ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mau mengambilnya, sesungguhnya dia telah mengambil bagian yang sempurna." (HR. Ahmad)

5. Terlindungi dari azab Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: ”Dunia ini terkutuk dengan segala isinya kecuali dzikrullah (taat kepada Allah) dan yang serupa itu, berilmu dan penuntut ilmu.” (HR At Tirmidzi).


6. Menjadi umat terbaik

Rasulullah SAW bersabda: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

 

7. Berkumpul dengan yang dicintai di akhirat

Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang kelak di akhirat dikumpulkan bersama siapa yang dicintai di dunia.” (HR Muslim).


PERBEDAAN
 
KAJIAN ONLINE:
 
1. Bisa menjangkau lokasi yang lebih luas,
Misalnya daerah terpencil, minim dai, belum ada masjid, dll.
2. Mungkin bisa lebih ringan bagi orang yang futur/sedang malas/sedang imannya lemah,
3. Memudahkan orang-orang dengan kondisi khusus agar tetap bisa mendengarkan ceramah, misalnya orang yang sedang kerja/sibuk, orang sakit, orang lemah, orang cacat, dll.
4. Kadang tidak bisa mengakses full isi ceramahnya (terpotong),
5. Tidak bisa tanya langsung, kecuali sedang live.
6. Mudah mengakses dan membandingkan ceramah-ceramah dari berbagai ustaz.
7. Netizen/warganet suka ikut campur kalau kita merespon/bertanya pada ustaz/pemosting materi kajian tersebut, lalu rawan terjadi debat antar pengikut masing-masing ustaz tersebut atau bertengkar.

Bisa kita lihat sendiri pada poin-poin di atas, ada juga sisi positifnya. Akan tetapi, sebisa mungkin itu bersifat pelengkap saja karena mengikuti kajian offline/dengan datang langsung lebih banyak keutamaannya, di antaranya sebagai berikut:
 
 
KAJIAN OFFLINE (datang langsung ke masjid/majelis ilmu):
 
1. Biasanya di kajian itu dekat waktu sholat, jadi sekalian sholat berjamaah dan sholat di awal waktu,
 
2. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah 
Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).

Tasybik adalah menjalin jari-jemari.

3.  Menghapuskan dosa dan meningkatkan derajatnya

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya. (HR. Muslim no. 666)

4. Amalannya dicatat di 'illiyyin

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara Maghrib dan Isya), maka amalan kebaikannya di masjid terus dicatat di ‘illiyyin.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:

Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun."

5. Sebagai tempat untuk bersilaturahim,

6. Seolah berada di taman surga dan saat berada di sana seolah-olah duduk bersama Allah dan Nabi Muhammad

Dalam kitab Al Mu’jam al-Kabir diceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

"Apabila melewati taman surga, hendaklah kamu duduk di situ dan istirahatlah di situ."

Para sahabat lantas bertanya, "Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud taman surga itu?"

Nabi Muhammad saw menjawab, "Ialah majelis-majelis ilmu. Barang siapa yang duduk bersama ulama, maka dia duduk bersamaku. Dan barang siapa yang duduk bersamaku, seakan-akan dia duduk bersama Allah." (HR. Thabrani).

7. Mendapat pahala orang yang melakukan haji dengan sempurna

Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang pergi ke masjid, tidaklah diinginkannya (untuk pergi ke masjid) kecuali untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarkan kebaikan. Maka baginya pahala seperti orang yang melakukan haji dengan sempurna.” (HR.As-Suyuthi).

8.  Disebut-sebut oleh Allah di hadapan makhluk-Nya

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya." (HR. Muslim no. 2699)

9. Merupakan jihad fisabilillah

Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid, 69).

10. Diridhoi malaikat

Rasulullah SAW bersabda, “Dan sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya kepada para penuntut ilmu karena ridha atas apa yang telah dilakukan.”

11. Bisa mengakses full isi ceramahnya, sekaligus tanya-jawab langsung.

Bagaimana? Menggiurkan bukan keutamaannya.

Jelas beda ya.

Tinggal pilih saja, mau dapat sedikit kebaikan atau banyak kebaikan?



Sumber:

Akurat.co

Dalamislam.com

Muslim.or.id

Www.percikaniman.org



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.