01 Maret 2018

20 Kiat Sukses Negosiasi



20 Kiat Sukses Negosiasi
 
Sadar atau tidak, di sepanjang hidup, kita tak asing dengan negosiasi. Tawar-menawar antara pembeli dan penjual, negosiasi liburan antara orangtua dan anak, negosiasi cara mendidik anak antara suami isteri, bahkan terkadang murid-murid berusaha melakukan negosiasi PR atau tugas dengan gurunya. Di tingkat yang lebih tinggi, ada juga negosiasi antar perusahaan atau antar negara. Pendeknya, negosiasi bukan hal baru bagi kita.

Suatu negosiasi bisa menghasilkan keputusan menang-menang, menang-kalah, atau kalah-kalah. Agar hasilnya memuaskan, diperlukan persiapan matang dan keahlian khusus. Persiapan yang dimaksud misalnya: 

1.   Mengetahui tujuan dan target
2.   Mengetahui kekuatan dan kelemahan Anda
3.   Menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan
4.   Mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan
5.   Mengetahui kekuatan dan kelemahan hal yang akan dinegosiasikan
6.   Memperhatikan penampilan Anda
7.   Mengetahui tujuan/target lawan
8.   Mengetahui lawan mewakili siapa
9.   Mengetahui lawan independen/tim
10.  Mengetahui reputasi lawan
11.  Mengetahui cara negosiasi lawan
12.  Mengetahui pengalaman negosiasi lawan
13.  Mengetahui strategi dan teknik yang mungkin digunakan lawan
14.  Mengetahui kelemahan dan keunggulan produk lawan
15.  Tenggat waktu bagi lawan untuk menyelesaikan negosiasi
16.  Mengetahui hal lain dari lawan, seperti: kepribadian, sifat, karakter, dan hobi.

Selain itu, para negosiator juga perlu melengkapi diri dengan berbagai taktik khusus. Taktik tersebut bisa berupa hal-hal di bawah ini.

Ada 20 taktik utama negosiasi, yaitu:
1.   Jangan terlalu cepat menyatakan persetujuan

2.   Pura-pura terkejut
Keberhasilan teknik ini tergantung spontanitas, intonasi, dan ekspresi wajah Anda.

3.   Setujui dulu, lalu ubahlah
Contoh:
“Pendapat Bapak mungkin benar, tetapi akan lebih baik jika Bapak juga mempertimbangkan faktor-faktor ... “

4.   Pura-pura tidak tertarik
Ibu-ibu biasanya sangat akrab dengan teknik ini, yaitu ketika menawar barang. Meskipun, teknik ini juga bisa diterapkan juga oleh penjual.

5.   Memberikan pilihan paksa
Contoh:
“Saran saya, sebaiknya kamu memilih Fakultas Psikologi, boleh juga sih memilih Fakultas Hukum tetapi apa kamu sudah pertimbangkan kesulitan cari kerja setelah lulus nanti.”

6.   Mengurangi pilihan
Contoh:
“Pekerjaan rumahmu kamu kerjakan kapan? Sekarang atau nanti sore?”

7.   Mengatakan ada tawaran yang lebih baik
Contoh:
a.  Mengatakan harga di toko lain lebih murah

b.  Mengatakan sudah ada pembeli lain yang menawar lebih mahal daripada calon pembeli tersebut.
Dibutuhkan penyusunan kalimat yang tepat, ekspresi wajah benar, dan perkataan yang lancar di dalam melakukannya.

8.   Membuat tawaran pembuka semaksimal mungkin, tetapi masih dalam kategori wajar

9.   Meminta tawaran yang lebih baik
Misal, harganya 100 ribu. Anda jangan langsung menawar, katakan dulu, “Wah, harganya terlalu mahal, tolong turunkan harganya dong!”
Dalam membeli sesuatu, taktik ini sangat efektif digabungkan dengan taktik pura-pura terkejut.
Contoh lain:
“Coba kamu perbaiki lagi, seharusnya kamu masih bisa memperbaiki karyamu lagi.” Lakukan berulang-ulang sampai karya tersebut sudah maksimal.

10.     Taktik orang baik-orang jahat
Contoh:
Seorang anak wanita meminta izin untuk pesta perpisahan kelas sampai tengah malam. Ayahnya tegas menolak, ibunya dengan pendekatan lunak pura-pura kooperatif padahal sudah berunding dengan ayhnya, maksimal hanya boleh sampai jam 11 malam.

11.     Tidak punya wewenang memutuskan

12.     Taktik menggerogoti
Taktik ini berupa permintaan kecil, namun beberapa kali, setelah permintaan sebelumnya disetujui lawan. Bertahap, satu selesai baru minta lagi, dan seterusnya. Ia biasa digunakan oleh tukang dan anak kecil.

Contoh:
a.  Anda dan tukang setuju biaya 50 juta, lalu setelah hampir selesai kerjaannya tukangnya bilang, “Keramik kamar mandinya apa tidak sebaiknya diganti saja? Sudah banyak yang rusak dan kelihatannya kotor. Biayanya tidak mahal, hanya sekitar 5 juta.”

b.  Anak kecil minta mandi bola. Setelah selesai mandi bola minta es krim.

13.     Selalu meminta imbal balik
Tak boleh memberikan sesuatu cuma-cuma, Anda harus meminta sesuatu sebagai imbalan dari yang Anda berikan.

14.     Memberi batas waktu
Contoh:
a.  “Sebaiknya Bapak membeli bulan ini, karena kemungkinan besar bulan depan harga akan naik.”

b.  “Kamu hanya boleh bermain sampai jam 12, kalau tidak kamu tidak akan ibu belikan mainan kesukaanmu.”

15.     Menunda negosiasi
Kalau tekanan dari lawan semakin berat dan Anda belum bisa atau masih ragu memutuskan, tundalah dengan mengulur waktu.
Bila lawan tetap mendesak, tekan balik dengan konsensi yang Anda harapkan:
“Saya bisa membuat keputusan sekarang asalkan Bapak bisa menyetujui permintaan saya.”

16.     Mengaitkan sesuatu dengan lainnya
Taktik ini memakai aturan:
Jika ... maka ...
Atau
Jika tidak ... maka ...

Contoh:
a.  Jika kamu tidak belajar, maka kamu tidak boleh main game.
b.  Ayo kita beli es krim, tapi minum dulu obatmu!

17.     Mengiris kecil-kecil
Dilakukan dengan membagi sebuah negosiasi besar ke dalam berbagai bagian yang kecil. Hal yang mudah disetujui kedua belah pihak akan dibicarakan dulu. Hal yang sulit mendapat persetujuan dibicarakan kemudian, setelah dicapai beberapa kesepakatan.

Contoh:
Penjual tidak tergesa-gesa menurunkan harga jual, pembeli tidak tergesa-gesa menaikkan tawaran harga.

18.     Kompromi di tengah-tengah
Contoh:
Penjual menawarkan harga 100 ribu, pembeli ingin 80 ribu, maka harga 90 ribu adalah harga kompromi di tengah.

Dianjurkan agar Anda tidak memberikan tawaran kompromi di tengah, tetapi tunggulah lawan negosiasi yang memberikan tawaran tersebut. Pihak yang lebih dulu menawarkan kompromi di tengah biasanya dalam posisi lemah dan mudah ditekan untuk merendahkan tawarannya.

19.     Taktik harga mati
Contoh:
“Ini sudah harga terbaik yang saya berikan. Saya sudah tidak bisa menurunkan harga lagi.”

Taktik harga mati yang dilakukan terang-terangan sering membuat lawan tersinggung. Untuk menyiasatinya, kombinasikanlah dengan taktik mengaitkan sesuatu dengan lainnya.

Contoh:
“Maaf Pak, aturan perusahaan kami menyebabkan saya sudah tidak bisa memberikan diskon lagi kepada Bapak, namun jika Bapak bisa membeli dalam jumlah banyak dan melakukan pembayaran secara tunai, saya akan berunding lagi dengan atasan.”

20.     Taktik dompet kosong (kehabisan sumber daya)
Contoh:
a.  Suami menolak diajak belanja dengan alasan dia sangat capek.
b.  Anak menolak membantu membersihkan rumah dengan alasan tidak punya waktu, karena harus mengerjakan banyak PR dari gurunya.
c.  “Saya hanya punya uang ini, keputusannya terserah kamu.”

Setelah Anda membaca contoh-contoh di atas, semakin jelas bukan bahwa negosiasi banyak terjadi di sekitar kita, dan kita pun mungkin sering melakukannya. Bahkan, sadar ataupun tidak, tukang, penjual sayur, dan anak-anak juga melakukannya.
Dengan memahami teknik-teknik tersebut diharapkan kemampuan negosiasi kita bisa meningkat, sehingga memperoleh hasil yang lebih baik.

Sumber:
Wibowo, Budhi. 2011. Sukses Hidup Sehari-hari dengan 50 Taktik Negosiasi. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Sumber gambar: Pixabay